PALEMBANG — Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) Universitas Sriwijaya (Unsri) mengambil langkah strategis untuk memperkuat riset di bidang ketahanan pangan dan energi. Rektor Unsri Taufik Marwa menyebutkan penguatan akan difokuskan pada optimalisasi Fakultas Pertanian untuk sektor pangan dan Fakultas Teknik untuk sektor energi. Kebijakan ini tidak membutuhkan pembentukan program studi atau fakultas baru.
Menurut Taufik Marwa, penguatan riset dilakukan melalui kolaborasi lintas instansi dan lintas sektor. Tujuannya adalah membangun hilirisasi di bidang pertanian dan energi dengan mengoptimalkan potensi sumber daya Sumatera Selatan. "Kolaborasi berbasis riset dapat mempercepat pengembangan inovasi," ujar Rektor Unsri, Kamis (28/5/2026).
Unsri tidak hanya mengandalkan sumber daya alam. Potensi tenaga pendidik dan mahasiswa berkualitas juga digenjot melalui program pertukaran mahasiswa serta peluang beasiswa ke luar negeri. Saat ini, universitas tersebut konsisten menjalin komunikasi dengan Malaysia untuk penelitian berbasis pertanian dan energi. "Kita berusaha untuk mendukung itu. Tidak mesti kita bentuk prodi dan fakultas baru. Kita bisa optimalkan prodi yang sudah ada," jelas Taufik.
Status PTNBH yang disandang Unsri memberikan otonomi akademik penuh. Kampus memiliki kewenangan dalam mengelola tata kelola, keuangan, serta sumber daya manusia, termasuk dosen dan tenaga kependidikan. Hal ini memudahkan pembukaan atau penutupan program studi untuk menjalankan instruksi pemerintah pusat.
Pada April 2026, Unsri melalui Fakultas Pertanian menjalin sinergi dengan Balai Karantina dalam program Practitioner Goes to Campus. Kegiatan ini menjadi bagian dari perkuliahan mata kuliah Karantina Tumbuhan dengan tema “Indonesian Quarantine: The Silent Hero Behind Food Security”. Kerja sama dengan praktisi lapangan diharapkan mendukung pembelajaran pada bidang khusus yang berperan strategis dalam menjaga sumber daya hayati dan ketahanan pangan nasional.