SUMATERA SELATAN — Selama beberapa bulan terakhir, laptop Windows on Arm bertenaga Snapdragon X memang menawarkan daya tahan baterai yang impresif. Namun, janji kecerdasan buatan (AI) revolusioner di perangkat belum sepenuhnya terwujud. Menjalankan model AI yang kompleks masih terhambat oleh RAM 16 GB dan ketiadaan akselerator yang memadai.
NVIDIA mencoba menjawab celah ini dengan RTX Spark. Superchip ini bukan sekadar prosesor biasa—ia adalah sistem-on-chip (SoC) yang menyatukan CPU, GPU, dan memori dalam arsitektur memori terpadu (unified memory). Pendekatan ini sebenarnya sudah lazim di ponsel pintar, di mana CPU dan GPU berbagi satu kumpulan RAM untuk efisiensi.
Jantung RTX Spark adalah NVIDIA N1X, atau GB10 Grace Blackwell Superchip. Chip yang sama sebenarnya sudah dipakai di DGX Spark seharga USD 4.700 (sekitar Rp 77,5 juta), namun DGX Spark menjalankan Linux, bukan Windows.
GB10 menggunakan arsitektur Armv9 modern—arsitektur yang sama ditemukan di chipset ponsel kelas atas. Bedanya, RTX Spark mengemas 20 inti CPU: sepuluh inti Arm Cortex-X925 dan sepuluh inti A725. Cortex-X925 sendiri pertama kali muncul di MediaTek Dimensity 9400 tahun lalu untuk ponsel, namun hanya dalam konfigurasi satu inti besar. Menariknya, MediaTek turut mendesain CPU di RTX Spark.
Kecepatan clock-nya juga lebih tinggi: inti X925 berjalan di 4,0 GHz dan A725 di 2,85 GHz, melampaui implementasi chip ponsel generasi sebelumnya. Dengan cache L2 hingga 2 MB per inti X925 dan 512 KB per inti A725, ditambah 16 MB L3 dan 16 MB cache sistem, performa CPU-nya diperkirakan solid meski mungkin belum bisa mengalahkan Apple Silicon atau Qualcomm Oryon di tugas single-thread.
Fitur paling revolusioner dari RTX Spark adalah memori terpadu 128 GB yang bisa diakses langsung oleh CPU dan GPU. Ini dimungkinkan berkat koneksi NVLink-C2C, antarmuka yang menyediakan bandwidth dua arah hingga 600 GB/detik antara prosesor dan grafis.
Sebagai perbandingan, bandwidth ini sekitar lima kali lebih cepat dari PCIe Gen5. Jika model AI besar harus dibagi antara RAM sistem dan RAM GPU, bottleneck di PCIe bisa menjadi hambatan serius. Dengan NVLink-C2C, data bisa berpindah tanpa overhead berarti.
Namun, perlu dicatat bahwa RTX Spark tetap menggunakan RAM LPDDR5X dengan bandwidth efektif 273 GB/detik. Ini jauh lebih lambat dibandingkan memori GDDR6/7 khusus di kartu grafis desktop yang bisa mencapai 768 GB/detik. Artinya, performa gaming RTX Spark kemungkinan tidak akan setara GPU desktop high-end. Tapi untuk tugas AI—di mana kapasitas memori besar lebih krusial daripada kecepatan mentah—pendekatan ini sangat masuk akal.
NVIDIA belum mengumumkan harga resmi RTX Spark. Namun, melihat harga DGX Spark yang sudah mencapai USD 4.700, serta kelangkaan RAM 128 GB di pasar laptop saat ini, bisa dipastikan harganya akan tinggi. Laptop pertama yang menggunakan chip ini dijadwalkan rilis akhir 2025 dari mitra seperti Microsoft Surface, ASUS, Dell, HP, Lenovo, dan MSI.
Bagi kreator konten, pengembang AI, atau profesional yang butuh menjalankan model bahasa besar (LLM) secara lokal tanpa cloud, RTX Spark bisa menjadi terobosan. Namun, bagi pengguna umum yang hanya butuh laptop untuk kerja kantor dan hiburan, chip Snapdragon X atau bahkan laptop Intel/AMD generasi terbaru mungkin sudah lebih dari cukup.