Awal Musim Kemarau di Sumsel, BMKG Imbau Waspadai Lonjakan Suhu 34 Derajat dan Risiko Karhutla

Penulis: Khairul Anwar  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 17:48:31 WIB
BMKG Sumsel mengimbau waspada lonjakan suhu hingga 34 derajat di awal musim kemarau.

PALEMBANG — Suhu udara di Sumatera Selatan (Sumsel) diprakirakan terus mengalami lonjakan seiring menurunnya intensitas hujan. Kepala Unit Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Sinta Andayani, menyatakan kondisi cuaca saat ini umumnya didominasi cerah hingga berawan.

Suhu Maksimum Capai 34 Derajat, Warga Diimbau Gunakan Tabir Surya

Fenomena ini dipicu oleh aktifnya Monsun Australia yang bertiup melewati wilayah Indonesia. Sinta menjelaskan bahwa monsun tersebut menyebabkan kandungan uap air di atmosfer menjadi sangat minim.

"Selain itu, faktor dinamika atmosfer saat ini kurang berpengaruh terhadap proses pembentukan awan hujan," katanya di Palembang, Rabu.

Secara klimatologis, Sumsel kini telah resmi memasuki awal musim kemarau. Berkurangnya tutupan awan mengakibatkan suhu udara maksimum di siang hari mencapai 33 hingga 34 derajat Celsius.

"Cuaca yang panas dan terik ini tentu terasa kurang nyaman bagi masyarakat yang beraktivitas," ujar Sinta.

BMKG mengimbau masyarakat untuk segera beradaptasi, antara lain dengan melindungi diri menggunakan tabir surya atau payung saat beraktivitas di luar ruangan. Menjaga kondisi kesehatan tubuh di tengah cuaca kering juga menjadi prioritas.

Ancaman Karhutla Meningkat, Warga Diminta Bijak Gunakan Air

Di balik cuaca panas, fokus utama yang harus diwaspadai adalah melonjaknya risiko kebakaran. Kurangnya curah hujan membuat vegetasi mengering dan sangat mudah tersulut api.

"Kami meminta masyarakat dan pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan tinggi terhadap peningkatan potensi kebakaran lahan dan hutan (karhutla), serta ancaman bahaya kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk," tegas Sinta.

Masyarakat juga diminta untuk mulai bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih. Langkah ini menjadi antisipasi awal terhadap dampak kekeringan yang kerap menyertai musim kemarau di wilayah Sumsel.

Reporter: Khairul Anwar
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top