SUMATERA SELATAN — Manajemen PGEO menilai, selama ini pemesanan tiket dan hotel secara manual membuka celah inefisiensi. Tanpa sistem terpusat, pengeluaran perjalanan dinas sulit dikontrol dan rawan membengkak karena harga tidak transparan.
Lewat kerja sama ini, PGEO menerapkan sistem autodebet dan skema actual cost alias biaya riil. Artinya, setiap pembelian tiket dan pemesanan kamar hotel dibebankan langsung ke rekening perusahaan tanpa perantara yang bisa menaikkan harga.
"Dengan diimplementasikannya rencana transaksi melalui sistem autodebet dan skema actual cost, PGEO dapat memastikan bahwa setiap pemesanan tiket dan akomodasi dilakukan secara transparan tanpa adanya markup biaya," demikian pernyataan manajemen PGEO dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Kamis (4/6/2026).
Nilai kontrak Rp50,35 miliar setara dengan 0,15 persen dari total ekuitas perseroan yang mencapai USD2,04 miliar (kurs Rp16.500 per dolar AS).
Mitra Tours and Travel merupakan anak usaha di bawah holding Pertamina yang bergerak di bidang digital travel management. Sebagai entitas satu grup, kerja sama ini masuk kategori transaksi afiliasi yang wajib diungkap ke publik.
Manajemen PGEO menegaskan, tidak ada kerugian ekonomis langsung jika kontrak ini batal. Namun, tanpa sistem digital terpadu, risiko kebocoran biaya perjalanan dinas tetap mengintai. Pemesanan manual dinilai rawan dimanfaatkan oknum untuk menaikkan harga tiket dan akomodasi di luar kewajaran.
Langkah ini sejalan dengan upaya PGEO memperkuat tata kelola biaya operasional di tengah agresivitas ekspansi panas bumi. Perusahaan pelat merah itu tengah menggarap sejumlah proyek pembangkit listrik panas bumi baru di Sumatera dan Jawa.
Dengan pengelolaan perjalanan dinas yang lebih ketat, PGEO berharap margin operasional tetap terjaga tanpa mengorbankan mobilitas karyawan ke lokasi proyek. Keputusan ini juga menjadi preseden bagi anak usaha Pertamina lain untuk mengadopsi sistem serupa.