SUMATERA SELATAN — ‘Aisyiyah hadir sebagai kekuatan strategis yang konsisten mengusung visi Perempuan Islam Berkemajuan di Sumatera Selatan. Visi ini tidak hanya normatif, tetapi telah diwujudkan dalam gerakan nyata yang terukur dan berdampak luas bagi masyarakat.
Menurut Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Selatan periode 2005-2015, Zuammah, masih ada kecenderungan memandang peran perempuan secara sempit dan terbatas pada ranah domestik. Asumsi ini dinilai keliru dan berisiko menghambat potensi besar yang dimiliki perempuan.
‘Aisyiyah membalik paradigma tersebut dengan memperluas peran perempuan ke ranah publik secara produktif dan berdaya. Di Sumatera Selatan, kader ‘Aisyiyah terlibat aktif dalam pendidikan berbasis nilai Islam berkemajuan, pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, serta dakwah sosial yang responsif terhadap isu kontemporer.
“Ini bukan sekadar partisipasi, tetapi kepemimpinan. Banyak kader perempuan ‘Aisyiyah menjadi pengambil keputusan di tingkat komunitas hingga regional,” ujar Zuammah.
Kiprah ‘Aisyiyah di Sumatera Selatan tidak generik. Program-program yang dijalankan dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Beberapa di antaranya meliputi edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan stunting, penguatan keluarga sakinah berbasis nilai Islam, literasi digital bagi perempuan, serta pengembangan UMKM berbasis kemandirian ekonomi.
Pendekatan yang digunakan sistematis: identifikasi masalah, intervensi berbasis komunitas, hingga evaluasi dampak. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan perempuan tidak boleh emosional atau simbolik, tetapi harus berbasis strategi.
Zuammah menyoroti tiga kekuatan utama perempuan yang kerap diremehkan. Pertama, akses ke keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Kedua, kemampuan adaptasi sosial yang tinggi. Ketiga, peran ganda yang jika dikelola dengan tepat menjadi keunggulan, bukan beban.
“Perempuan tidak hanya diberdayakan, tetapi juga didorong untuk mandiri secara intelektual, ekonomi, dan spiritual,” tegasnya.
Namun, ia mengakui bahwa potensi ini sering tidak maksimal karena mindset internal, seperti merasa cukup, takut berkembang, atau enggan keluar dari zona nyaman. Tantangan ini harus diselesaikan dari dalam, bukan hanya lewat program eksternal.
Untuk memastikan gerakan tetap relevan dan progresif, ‘Aisyiyah Sumatera Selatan fokus pada beberapa inisiatif strategis ke depan. Digitalisasi gerakan perempuan menjadi prioritas untuk memperluas dakwah dan edukasi melalui platform digital. Regenerasi kepemimpinan perempuan muda juga ditekankan sebagai keharusan, bukan pilihan.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah, akademisi, dan sektor swasta terus diperkuat. Penguatan data dan riset juga digencarkan agar setiap program berbasis bukti, bukan asumsi.
“Tanpa arah strategis, gerakan akan stagnan. Dan stagnasi adalah bentuk kegagalan paling halus,” pungkas Zuammah.