Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 Per Liter, Menkeu Purbaya Yakin Pengguna Tak Semua Pindah ke Pertalite

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 09:07:01 WIB
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter memicu reaksi beragam di kalangan pengendara Sumatera Selatan.

SUMATERA SELATAN — Kenaikan harga Pertamax sebesar Rp 6.250 dari posisi sebelumnya menjadi Rp 16.250 per liter langsung memicu reksi di kalangan pengendara. Selisih yang mencapai 62,5 persen dengan Pertalite yang masih bertahan di Rp 10.000 per liter membuat banyak pemilik kendaraan berpikir ulang. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa punya pandangan berbeda soal dampak massal kebijakan ini.

Argumen Menkeu: Pemilik Tahu Spesifikasi Mesinnya

Dalam pernyataan yang dikutip detikFinance, Purbaya menyebut tidak semua pengguna Pertamax bakal otomatis beralih ke Pertalite. "Kenapa? Karena kan yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax," ujarnya. Argumentasi ini menyiratkan bahwa segmen pengguna BBM RON 92 adalah mereka yang sadar akan kebutuhan mesin kendaraannya, bukan sekadar soal harga.

Jika prediksi Menkeu terbukti benar, artinya proporsi perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi tidak akan besar. Dampaknya terhadap anggaran subsidi pun dinilai tidak akan membengkak secara drastis. Namun, data di lapangan menunjukkan cerita yang sedikit berbeda.

Di Lapangan: Antrean Pertalite dan Strategi 'Gonta-ganti' BBM

detikOto menemukan sejumlah warga yang langsung bereaksi atas kenaikan ini. Arif, seorang karyawan swasta yang sehari-hari menggunakan Pertamax, mengaku terpaksa pindah ke Pertalite. "Kaget sih saya... jadi terpaksa harus pindah ke Pertalite karena mungkin harganya signifikan untuk kenaikannya," katanya.

Ada pula yang mengambil jalan tengah. Fitri, pengendara lain, mengaku bakal mengganti bahan bakarnya dari Pertamax ke Pertalite, namun tidak secara permanen. "Ya ganti-gantian (Pertamax-Pertalite) lah, karena kan motor butuh bensin yang ini (Pertamax) sih biar awet," jelasnya. Strategi ini menunjukkan adanya kompromi antara tekanan biaya harian dan kebutuhan performa mesin.

Risiko 'Turun Kasta' ke RON 90: Bukan Cuma Soal Tarikan

Keputusan beralih ke Pertalite bukan tanpa risiko, terutama bagi kendaraan yang mensyaratkan bahan bakar minimal RON 92. Pakar mesin bakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Iman Kartolaksono Reksowardojo, pernah memperingatkan efek buruk penggunaan BBM dengan oktan di bawah rekomendasi pabrikan.

"BBM RON rendah bisa menyebabkan knocking atau mengelitik. Knocking harus dihindari, karena dalam kasus ekstrem bisa merusak mesin, membuat piston berlubang, serta menurunkan efisiensi dan menaikkan emisi gas buang," ucap Iman dalam catatan detikOto. Efek jangka panjangnya bukan hanya pada performa yang loyo, tapi juga potensi biaya perbaikan mesin yang jauh lebih mahal ketimbang selisih harga BBM per liternya.

Bagi pemilik mobil atau motor dengan kompresi mesin tinggi, menggunakan Pertalite secara terus-menerus bisa menjadi bumerang. Efisiensi bahan bakar justru bisa turun karena mesin bekerja tidak optimal, sehingga pengeluaran di pompa bensin belum tentu lebih hemat secara keseluruhan.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top