7 Destinasi Wisata Sejarah di Sumatera Selatan yang Penuh Cerita untuk Pengalaman Liburan Berbeda

Penulis: Ferdian Syah  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 11:09:31 WIB
Situs Purbakala Karanganyar di tepian Sungai Musi menyimpan struktur bata kuno peninggalan Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 hingga ke-9 Masehi.

Palembang bukan cuma pempek dan Jembatan Ampera. Di balik hiruk-pikuk kota, ada lapisan sejarah yang membentang dari abad ke-7 hingga awal kemerdekaan. Sungai Musi yang membelah kota menjadi saksi bisu lalu lintas perdagangan dan kekuasaan Sriwijaya. Tapi banyak pengunjung hanya mampir di Benteng Kuto Besak dan lupa bahwa ada cerita lain yang tidak kalah menarik di sekitarnya.

Artikel ini merangkum tujuh destinasi yang bisa kamu kunjungi dalam satu atau dua hari. Mulai dari situs peninggalan kerajaan maritim terkuat di Nusantara hingga kompleks pemakaman tokoh pergerakan nasional. Semua lokasi ini bisa diakses dengan kendaraan pribadi atau transportasi umum dari pusat kota Palembang.

1. Situs Purbakala Karanganyar — Jejak Sriwijaya di Tepian Sungai

Di tepian Sungai Musi, tepatnya di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus, terdapat kompleks percandian yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Situs ini ditemukan pada 1993 saat penggalian untuk proyek perluasan lahan. Dari sini ditemukan struktur bata kuno, fragmen keramik asing, dan sisa-sisa bangunan yang diyakini sebagai tempat upacara keagamaan Buddha.

Lokasinya sekitar 15 kilometer dari pusat Palembang. Akses jalan sudah beraspal, tapi sebagian ruas sempit. Waktu terbaik berkunjung pagi hari sebelum pukul 10.00 agar cahaya cukup untuk melihat detail struktur bata. Tidak ada tiket resmi, hanya kotak sumbangan sukarela yang dikelola warga setempat.

2. Museum Balaputera Dewa — Koleksi Artefak Sriwijaya Terlengkap

Museum yang berlokasi di Jalan Srijaya Negara, Kelurahan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I ini menyimpan lebih dari 4.000 koleksi. Mulai dari arca Buddha perunggu, prasasti batu, hingga mata uang kuno dari Dinasti Tang dan Song. Koleksi paling terkenal adalah replika Prasasti Kedukan Bukit yang bertahun 682 Masehi — dokumen tertua yang menyebut nama "Sriwijaya".

Tidak seperti museum besar di Jakarta, suasana di sini cukup sepi pada hari kerja. Kamu bisa bertanya langsung kepada petugas yang biasanya duduk di ruang koleksi. Mereka tahu detail setiap benda. Cek jam operasional lewat akun Instagram resmi museum sebelum datang, karena kadang tutup lebih awal untuk acara internal.

3. Benteng Kuto Besak — Istana yang Tak Pernah Jadi Benteng

Benteng Kuto Besak atau BKB sering disangka benteng pertahanan, padahal fungsi aslinya adalah istana bagi Kesultanan Palembang Darussalam. Dibangun pada 1780 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, bangunan ini berdiri di tepi Sungai Musi dengan arsitektur perpaduan Eropa dan Melayu. Dinding setebal dua meter ini tidak pernah digunakan untuk perang — lebih sebagai simbol kekuasaan.

Sekarang area ini menjadi ruang publik. Banyak warga lokal duduk di anak tangga sambil menikmati angin sungai. Dari sini kamu bisa naik perahu ketek untuk melihat pemukiman terapung di seberang. Harga sewa perahu bervariasi, tawar-menawar langsung dengan pemilik perahu di dermaga.

4. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II — Rumah Sakit Belanda yang Jadi Museum

Bangunan ini dulunya adalah rumah sakit militer Belanda pada abad ke-19. Setelah kemerdekaan, dialihfungsikan menjadi museum yang menyimpan benda-benda peninggalan Kesultanan Palembang. Koleksi unggulannya adalah singgasana Sultan Mahmud Badaruddin II dan keris pusaka yang konon memiliki pamor khusus.

Letaknya di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II, tepat di seberang Masjid Agung Palembang. Kamu bisa masuk dengan tiket yang sangat terjangkau. Untuk informasi harga dan jam buka, cek papan pengumuman di pintu masuk atau tanya petugas jaga. Jangan lewatkan ruang di lantai dua yang menyimpan foto-foto hitam-putih Palembang tempo dulu.

5. Kompleks Pemakaman Raja-Raja Palembang di Candi Walang

Di Kecamatan Gandus, sekitar 20 menit dari pusat kota, ada kompleks pemakaman yang menyimpan makam sultan-sultan Palembang dari abad ke-17 hingga ke-19. Makam-makam ini berada di dalam bangunan berbentuk candi kecil, dikelilingi tembok bata merah. Setiap makam memiliki nisan dengan ukiran kaligrafi Arab dan motif flora khas Melayu.

Lokasinya tidak terlalu ramai. Jalan masuk berupa gang kecil, jadi kendaraan besar tidak bisa masuk. Disarankan memakai sepeda motor atau ojek. Tidak ada tiket masuk, hanya parkir sukarela. Jaga sikap karena area ini masih digunakan untuk ziarah oleh keturunan kesultanan.

6. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya — Replika Candi di Lahan Terbuka

Taman ini berada di Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II. Berbeda dengan situs asli di Karanganyar, tempat ini adalah rekonstruksi dari beberapa candi peninggalan Sriwijaya. Dibangun pada 2004 sebagai pusat edukasi dan rekreasi. Ada replika Candi Gumpung dan Candi Tinggi dari Muaro Jambi yang ditempatkan di area terbuka.

Cocok untuk pengunjung yang ingin foto dengan latar bangunan kuno tanpa harus ke Jambi. Tiket masuk sangat murah, bahkan kadang gratis jika datang saat hari libur nasional. Fasilitasnya lengkap: toilet, musala, dan warung makan. Tapi tidak ada peneduh di area candi, jadi bawa topi atau payung.

7. Rumah Bari — Rumah Tradisional Palembang Berusia 200 Tahun

Di Jalan Ki Kemas Rindo, Kelurahan 7 Ulu, ada rumah panggung kayu yang dibangun pada 1808. Rumah ini milik keturunan bangsawan Palembang dan masih dihuni hingga sekarang. Arsitekturnya khas Melayu Palembang: atap limas, ukiran kayu di dinding, dan tangga batu di depan. Pengunjung bisa melihat interior asli yang masih dipertahankan.

Karena masih dihuni, jam kunjungan tidak tetap. Lebih baik datang pada siang hari dan minta izin terlebih dahulu kepada pemilik. Jangan memotret sembarangan tanpa izin. Tidak ada tiket, kamu bisa memberi sumbangan sukarela jika diizinkan masuk.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua lokasi wisata sejarah di Palembang bisa dijangkau dengan transportasi umum?
Sebagian besar bisa dijangkau dengan angkutan kota atau ojek online. Untuk Situs Karanganyar dan Candi Walang yang berada di pinggiran, sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau ojek.

Kapan waktu terbaik mengunjungi situs sejarah di Sumatera Selatan?
Pagi hari antara pukul 08.00 hingga 11.00. Cuaca Palembang sangat panas pada siang hari, terutama antara Juni dan September.

Apakah ada biaya masuk untuk mengunjungi museum dan situs purbakala?
Museum Balaputera Dewa dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II memungut biaya masuk yang sangat murah. Situs terbuka seperti Karanganyar dan Candi Walang hanya menyediakan kotak sumbangan sukarela.

Bisakah saya mengunjungi semua tempat dalam satu hari?
Bisa, tapi akan terburu-buru. Disarankan dua hari: hari pertama untuk museum dan Benteng Kuto Besak di pusat kota, hari kedua untuk situs di pinggiran seperti Karanganyar dan Candi Walang.

Apakah ada pemandu wisata di lokasi?
Di Museum Balaputera Dewa dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ada petugas yang bisa menjelaskan koleksi. Untuk situs di luar kota, tidak ada pemandu tetap — kamu bisa belajar dari papan informasi di lokasi.

Wisata sejarah di Sumatera Selatan tidak melulu soal bangunan tua yang difoto lalu pulang. Setiap lokasi menyimpan potongan puzzle tentang bagaimana Palembang tumbuh dari kerajaan maritim, menjadi kesultanan, lalu kota modern seperti sekarang. Ambil waktu untuk duduk di tepi Sungai Musi setelah mengunjungi benteng, atau ngobrol dengan penjaga museum yang tahu cerita di balik setiap koleksi. Itu yang membuat perjalanan terasa lebih dari sekadar jalan-jalan.

Reporter: Ferdian Syah
Back to top