Pemprov Sumsel Gelar FGD Tanjak, Sepakati Empat Jenis dan Filosofi Ikat Kepala Khas Melayu Palembang

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 20:40:01 WIB
Empat jenis tanjak, yakni Tanjak Kepodang, Belah Mumbang, Meler, dan Rantau Ayaw, resmi didokumentasikan dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Pemprov Sumatera Selatan.

PALEMBANG — Empat jenis tanjak resmi didokumentasikan dalam forum yang dihadiri sejarawan, budayawan, tokoh adat, serta perwakilan dinas kabupaten/kota se-Sumatera Selatan. Keempatnya adalah Tanjak Kepodang, Tanjak Belah Mumbang, Tanjak Meler, dan Tanjak Rantau Ayaw. Masing-masing memiliki bentuk, lipatan, dan makna yang berbeda.

Apa Makna di Balik Nama "Tanjak"?

Sejarawan Sumsel Dr. Kemas Ari Panji menjelaskan, istilah tanjak berasal dari kata "nanjak" dalam bahasa Palembang yang berarti naik. Filosofi ini mengandung doa agar pemakainya senantiasa memperoleh peningkatan martabat, derajat, dan rezeki.

"Sejak dahulu tanjak menjadi simbol kehormatan yang hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan, pemimpin, maupun tokoh yang memiliki kedudukan tertentu," ujar Kemas dalam paparannya. Ia menambahkan, tradisi ini diyakini telah dikenal sejak masa Sriwijaya dan menjadi bagian penting dari busana kebesaran Kesultanan Palembang Darussalam.

Dimensi Spiritual di Balik Lipatan Kain

Budayawan Sumsel Vebri Al Lintani menyoroti sisi spiritual tanjak. Menurutnya, letaknya di bagian kepala menjadikan tanjak sebagai mahkota kehormatan yang mengingatkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Tanjak dibuat dari kain seperti songket, angkinan, prado maupun batik yang dibentuk melalui lipatan dan simpul tertentu. Setiap bentuk memiliki filosofi dan aturan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Melayu," jelas Vebri.

FGD Ini Jadi Pijakan Kebijakan Pemda

Anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan Sumsel (TGUPP) Kemas Khoirul Mukhlis menilai forum ini penting untuk menyamakan persepsi seluruh pemangku kepentingan. Hasil FGD diharapkan menjadi pijakan dalam penyusunan kebijakan pemerintah daerah, termasuk mendorong penggunaan tanjak di agenda resmi pemerintahan dan dunia pendidikan.

"Harapannya, lahir kesepahaman bersama mengenai pakem tanjak Sumatera Selatan sehingga keberadaannya semakin kuat sebagai identitas budaya daerah yang diwariskan secara utuh kepada generasi mendatang," ujar Kemas.

Langkah Strategis agar Tak Sekadar Fisik

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Dr. H. Rudi Irawan, yang membuka FGD, menekankan bahwa pelestarian tidak boleh berhenti pada bentuk fisik. "Kita berharap mampu mempertahankan nilai, filosofi, dan makna yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang," katanya.

FGD yang digelar di Ruang Rapat Bina Praja Lantai II Kantor Gubernur Sumsel ini juga dihadiri perwakilan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Sumsel, para tokoh adat, dan jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten/kota. Seluruh peserta sepakat menjaga keaslian dan keberlanjutan tradisi tanjak di tengah perkembangan zaman.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: halosumsel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top