Denda UE ke Apple, Google, dan Meta Capai Rp 635 Triliun, Trump Balas dengan Ancaman Tarif

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:42:31 WIB

SUMATERA SELATAN — Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana retaliasi terhadap denda yang dijatuhkan regulator Eropa ke raksasa teknologi AS. Trump menyebut angka denda yang diterima Apple, Google, Meta, dan Amazon sudah mencapai lebih dari $38 miliar (sekitar Rp 635 triliun) dan berjanji akan membalikkan seluruh hukuman tersebut.

Dalam unggahan panjang di Truth Social, Kamis (17/4) waktu setempat, Trump menulis:

"Uni Eropa kembali beraksi dan, seperti biasa, langsung menyasar perusahaan-perusahaan besar AS yang HEBAT! Setelah mendenda Apple, tanpa alasan sama sekali, $15 miliar, Meta $3 miliar, Amazon $2,5 miliar, dan banyak lainnya, kami baru saja diberitahu bahwa Google, sebuah grup yang benar-benar maju dan menakjubkan, didenda lagi $1 miliar, tanpa penjelasan. Ini membawa total denda Google menjadi lebih dari $18 miliar!"

Rincian Denda yang Disebut Trump

Trump secara spesifik menyebut beberapa denda, meskipun tidak semuanya merupakan denda langsung ke UE. Berikut rinciannya:

  • Apple: $15 miliar (sekitar Rp 248 triliun) — mengacu pada kasus pajak Irlandia di mana Pengadilan Tinggi Eropa pada 2024 memerintahkan Irlandia menagih €13 miliar pajak yang belum dibayar Apple. Trump menyebutnya sebagai denda, padahal dana tersebut masuk ke kas Irlandia, bukan UE.
  • Meta: $3 miliar (sekitar Rp 49,5 triliun) — denda terkait pelanggaran regulasi persaingan usaha.
  • Amazon: $2,5 miliar (sekitar Rp 41,2 triliun) — denda serupa dari regulator Eropa.
  • Google: total lebih dari $18 miliar (sekitar Rp 297 triliun) — termasuk denda terbaru €890 juta (sekitar Rp 15,1 triliun) pada April 2025 berdasarkan Digital Markets Act (DMA).

Konteks: Denda Pajak vs Denda Regulasi

Penting dipahami, tidak semua denda yang disebut Trump berbentuk sanksi langsung ke UE. Kasus Apple €13 miliar adalah perintah pemulihan pajak yang dibayarkan ke Irlandia, bukan ke Brussels. Sementara denda €570 juta terhadap Apple pada April 2025 dan €890 juta terhadap Google adalah sanksi resmi berdasarkan DMA, undang-undang antimonopoli anyar UE yang mengatur platform digital besar.

Trump menyebut praktik UE sebagai "ilegal dan sangat tidak etis" yang "dimulai pada tingkat tinggi selama tahun pertama pemerintahan Sleepy Joe Biden". Ia bersikeras kebijakan itu tidak akan berlanjut di bawah pemerintahannya.

Apa Itu Investigasi 301 dan Tarif yang Diancam?

Trump mengancam akan segera meluncurkan "301 Investigation", sebuah mekanisme dari UU Perdagangan AS yang memberi presiden kewenangan memberlakukan tarif atau pembatasan impor jika ditemukan praktik dagang yang tidak adil. "Uni Eropa akan membayar harga yang sangat mahal," tulis Trump. "Denda-denda itu akan dibalikkan sepenuhnya, dan kami mengantisipasi tarif besar akan dikenakan secepat mungkin."

Ini bukan pertama kalinya Trump mengancam retaliasi. Sebelumnya, pada 2025, pemerintahannya menyebut denda UE terhadap Apple dan Meta sebagai "pemerasan ekonomi". Kini dengan Trump kembali menjabat, ancaman tarif menjadi lebih konkret.

Dampak bagi Konsumen Teknologi di Indonesia

Bagi pengguna di Indonesia, eskalasi perang dagang AS-UE bisa berdampak tidak langsung pada harga produk teknologi. Jika tarif AS diberlakukan, UE kemungkinan akan membalas dengan tarif terhadap produk AS, yang pada akhirnya bisa menaikkan biaya produksi dan distribusi global. Produk seperti iPhone, MacBook, Pixel, dan perangkat Android premium rentan terkena imbas.

Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Perdagangan atau asosiasi teknologi Indonesia. Namun pengamat menilai ketidakpastian ini bisa memperlambat peluncuran produk baru di pasar Asia, termasuk Indonesia, karena produsen menunggu kejelasan kebijakan.

Situasi masih berkembang. Trump meminta publik untuk "stay tuned" dan berjanji akan mengumumkan langkah selanjutnya dalam waktu dekat. Sementara itu, konsumen disarankan memantau pergerakan harga terutama jika berniat membeli perangkat premium dalam waktu dekat.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: 9to5mac.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top