Sumatera Selatan bukan sekadar pempek dan Sungai Musi. Di balik itu, ada lapisan budaya verbal yang hidup di keseharian warganya. Bahasa Melayu Palembang—yang menjadi lingua franca regional—berkembang dengan aksen dan kosakata yang berbeda dari Melayu Riau atau Jambi. Bagi perantau atau wisatawan, memahami nuansa ini bukan cuma soal komunikasi, tapi juga kunci diterima di lingkungan lokal.
Pengalaman pertama saya di Palembang tujuh tahun lalu: seorang tukang becak bilang “Cak, nak ke mano?” Saya diam seribu bahasa. Sejak itu, saya sadar bahwa bahasa di sini punya logat yang tidak bisa ditebak dari buku pelajaran sekolah. Artikel ini akan memandu Anda melewati tujuh aspek paling menonjol—dari sapaan khas hingga partikel yang mengubah arti kalimat.
Logat Melayu Palembang dikenal dengan intonasi yang cenderung datar di awal kalimat lalu naik di akhir—mirip gaya bicara orang Betawi tapi lebih lambat. Orang lokal menyebutnya “bahasa besemang” karena terkesan santai dan ramah. Saat bicara, mereka sering mengganti bunyi /a/ di akhir kata menjadi /o/. Contoh: “saya” jadi “sayO”, “mana” jadi “manO”. Bedakan dengan logat Ogan yang lebih tegas dan Komering yang aksennya nyaris mirip Lampung.
Untuk pemula, cukup hafalkan perubahan vokal ini. Coba dengar percakapan di pasar 16 Ilir atau terminal bus Ampera—di situlah logat asli paling kental terasa.
Di Palembang, laki-laki dipanggil “Cak” dan perempuan “Yuk”. Ini bukan sekadar panggilan—tapi bentuk kesopanan sekaligus penanda keakraban. Jangan kaget kalau tukang es campur memanggil Anda “Cak, nak campur oranye?”. Untuk orang yang lebih tua, panggilan “Bapak” atau “Ibu” tetap lazim, namun di lingkungan teman sebaya, “Cak” dan “Yuk” dominan.
Bedakan dengan “Abang” atau “Kakak” yang dipakai di Sumatera Utara. Di Palembang, “Abang” justru terdengar formal. Jika ragu, ikuti cara lawan bicara memanggil Anda.
“Idak” berarti ‘tidak’, sementara “lak” semacam partikel penegas seperti ‘sih’ atau ‘dong’ di Jakarta. Contoh: “Idak usah, lak” artinya “Tidak usah lah”. Kombinasi keduanya menghasilkan ritme bicara yang unik. Orang lokal sering menyisipkan “lak” di tengah kalimat tanpa makna harfiah—hanya untuk memperhalus atau mempertegas.
Kesalahan umum pendatang: mengartikan “lak” sebagai kata tanya. Padahal, “lak” justru meratakan nada bicara. Kalau masih bingung, pasang telinga di angkutan umum—di sanalah “lak” digunakan paling natural.
Beberapa kata membingungkan karena beda arti dengan bahasa Indonesia baku. “Galak” artinya suka atau mau, bukan galak marah. “Makak” artinya bapak tua atau paman. “Bujang” berarti pria dewasa (bukan pemuda perawan). Ada juga “besak” yang artinya besar, dan “jangek” yang artinya sedikit atau pelit.
Jangan pernah mengucap “jangek” dengan nada mengejek—bisa dianggap penghinaan. Lebih aman pakai “dikit” saja. Kalau ditawari “galak ngopi?”, itu berarti “mau kopi?”. Jawab “Gak galak” berarti “tidak mau”. Sederhana tapi butuh adaptasi.
Sumatera Selatan punya lebih dari satu bahasa daerah. Bahasa Ogan dipakai di Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan Komering Ulu, dengan vokal lebih tebal dan tempo bicara cepat. Bahasa Komering (di Kabupaten OKU Timur dan OKU Selatan) mirip aksen Lampung karena sejarah migrasi. Sementara Lematang yang digunakan di sekitar Lahat memiliki kosakata seperti “kumah” (rumah) dan “sian” (siapa).
Jika berkunjung ke daerah pedalaman, siapkan adaptasi lebih. Di Kayuagung, misalnya, logatnya sudah campuran Melayu dan Komering. Lebih baik awali percakapan dengan nanya “Bahaso Jowo atau Palembang?”—warga setempat biasanya senang menjelaskan.
Partikel “-gek” di akhir kata kerja memberi arti perintah halus. “Makan-gek” sama dengan “makanlah”. Sebaliknya, “-ke” di akhir kata sifat membuatnya menjadi pertanyaan. “Cantik-ke?” berarti “cantik nggak?”. Partikel ini sangat produktif—hampir setiap kalimat bisa diakhiri salah satunya. Perhatikan: “Piye, rame-ke?” artinya “Bagaimana, ramai nggak?”.
Menguasai dua partikel ini membantu Anda terdengar lebih lokal. Tapi hati-hati, memakai “-gek” pada orang tua tanpa panggilan sopan bisa terdengar kasar. Gunakan setelah “Cak” atau “Yuk”.
Orang Sumsel punya peribahasa seperti “Adat sindang perut” (menghargai tamu) dan “Duduk samo rendah, tagak samo tinggi” (kesetaraan). Ungkapan ini kerap dipakai dalam sambutan resmi atau obrolan arisan. “Bedayo mangka rayo” artinya bersatu untuk sukses. Memahami ini membantu Anda menangkap humor dan nilai lokal—terutama saat menghadiri acara nikah atau pesta panen.
Jangan salah paham kalau mendengar “ojo ngono” di Palembang—itu bukan Jawa, tapi pengaruh budaya pesantren yang melebur dengan logat setempat. Masyarakat Sumsel terbuka dengan pendatang, asal Anda mau belajar.
Apakah bahasa Palembang sama dengan bahasa Melayu?
Iya, bahasa Palembang termasuk rumpun Melayu, tapi punya kosakata dan intonasi khas yang membedakannya dari Melayu Riau atau Malaysia.
Berapa lama waktu untuk bisa fasih logat Palembang?
Bergantung intensitas bergaul. Rata-rata pendatang mulai paham percakapan dasae dalam 2-3 bulan, terutama jika tinggal di Palembang kota.
Apakah orang Sumsel tersinggung jika bahasa daerahnya salah diucapkan?
Tidak. Mereka justru senang melihat pendatang berusaha. Yang penting hindari mengolok-olok logat mereka secara berlebihan.
Di mana tempat terbaik belajar logat Palembang?
Pasar 16 Ilir, sekitar Benteng Kuto Besak, atau warung pempek kayangan. Di sana Anda bisa dengar interaksi langsung dengan beragam usia dan latar.
Apakah logat Palembang dipakai di media resmi?
Di berita TV lokal dan radio masih sering digunakan, terutama acara komedi atau talkshow budaya. Bahasa Indonesia tetap dominan di dokumen resmi.
Bahasa dan logat adalah jendela masuk ke hati masyarakat Sumsel. Setelah Anda memahami tujuh ciri di atas, perjalanan ke Palembang hingga ke pelosok Muara Enim atau Lahat akan terasa berbeda. Bukan hanya mendengar kata-kata, tapi merasakan denyut budaya yang sudah berusia berabad-abad. Selamat berlatih—atau dalam logat Palembang: “Selame bekaja, Cak!”