SUMATERA SELATAN — CEO Haka Auto, Haerady Kaimuddin, menyatakan bahwa penjualan kendaraan listrik nasional kini mendekati 20 persen dari total pasar mobil baru — lompatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkisar 5–15 persen. Untuk mengakselerasi adopsi di luar Jawa, perseroan memperkuat jaringan distribusi sebagai fondasi utama membangun kepercayaan konsumen.
Saat ini 22 dealer BYD Haka telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan juga tengah membangun sekitar 10 outlet baru dan menargetkan memiliki 35 hingga 40 dealer sebelum tutup tahun 2026. Ekspansi ini menyasar Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi — daerah dengan potensi tinggi seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan.
"Kehadiran dealer menjadi fondasi penting karena berkaitan langsung dengan layanan penjualan, purnajual, hingga ketersediaan suku cadang," ujar Haerady saat pameran otomotif di Trans Studio Mall Makassar, Minggu (26/7/2026).
Salah satu hambatan terbesar adopsi EV di Indonesia adalah kekhawatiran kehabisan daya saat perjalanan jauh. BYD menjawabnya melalui teknologi Dual Mode Intelligent (DM-i) — plug-in hybrid yang mengombinasikan motor listrik dan mesin bensin. Mobil dapat melaju hingga sekitar 100 kilometer menggunakan tenaga listrik murni untuk mobilitas harian; ketika baterai habis, mesin bensin bekerja otomatis.
Haerady mengungkapkan permintaan varian DM-i secara nasional dua kali lipat dibandingkan EV murni. Di luar Jawa, potensinya diperkirakan bisa tiga hingga empat kali lipat karena teknologi ini tidak bergantung sepenuhnya pada infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang masih terbatas.
BYD juga mengandalkan inovasi pengisian daya untuk memenangkan persaingan. Perusahaan yang memiliki lebih dari 100 ribu insinyur riset itu tengah menyiapkan Flash Charging 1,5 Megawatt — mampu mengisi baterai dari 10 persen ke 70 persen hanya dalam lima menit, dan hingga 90 persen dalam tujuh menit. Teknologi ini secara signifikan memangkas waktu pengisian yang selama ini menjadi kendala utama EV.
Apabila diterapkan secara luas di Indonesia, kecepatan pengisian ini diharapkan mengurangi hambatan adopsi, terutama di daerah dengan SPKLU terbatas.
Saat ini distribusi penjualan EV nasional masih timpang: sekitar 70 persen berasal dari Jabodetabek, 20 persen dari Jawa lainnya, dan hanya 5–6 persen dari luar Jawa. Haerady menilai kondisi ini justru menjadi peluang besar. Pertumbuhan ekonomi daerah, pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya kesadaran efisiensi energi akan mendorong adopsi EV di luar Pulau Jawa.
Investasi BYD di Indonesia — termasuk pabrik triliunan rupiah di Subang — turut memperkuat rantai pasok nasional dan mempercepat terciptanya ekosistem kendaraan listrik yang lebih kompetitif. Dengan kombinasi perluasan dealer, teknologi DM-i, dan inovasi flash charging, Haka Auto yakin Sulawesi dan kawasan timur Indonesia akan menjadi motor pertumbuhan berikutnya.