SUMATERA SELATAN — Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 di Makassar mendorong penyelenggara acara musik mengubah konser dan festival menjadi kekayaan intelektual yang bisa dimonetisasi jangka panjang. Diskusi hari ketiga mempertemukan pelaku industri, pengelola transportasi publik, dan promotor untuk membahas Sirkuit Venue Indonesia. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo turut hadir dalam agenda tersebut.
Chief Marketing Officer Danantara Indonesia, Dendi Danianto, menegaskan industri musik perlu berhenti memandang acara sebagai kegiatan hiburan sesaat. Menurut dia, event musik harus dikelola sebagai IP yang dapat dikembangkan, dimonetisasi, dan memberi nilai tambah berkelanjutan.
Pandangan itu ia sampaikan sebagai pembicara utama dalam diskusi hari ketiga KMI 2026 di Makassar. Dendi menyoroti perlunya strategi menyeluruh, mulai dari pengelolaan hak kekayaan intelektual, pengembangan bisnis, perluasan distribusi, hingga kolaborasi lintas sektor.
Dendi mencontohkan sejumlah negara yang berhasil mengintegrasikan pertunjukan musik dengan pariwisata, pendanaan, dan distribusi konten. Indonesia dinilai punya potensi besar meniru model serupa lewat kolaborasi pelaku industri, pemerintah, dan badan usaha.
"Event musik jangan hanya menjadi kegiatan sesaat. Kita harus membangun IP yang bisa dikembangkan, dimonetisasi, dan memberikan nilai tambah dalam jangka panjang," ujar Dendi.
Ia menekankan bahwa yang dibangun industri bukan sekadar sponsorship. Dendi menyebut perlunya creative engine yang menghasilkan, sehingga satu IP bisa berkembang menjadi berbagai peluang bisnis.
"Yang kita bangun bukan hanya sponsorship, tetapi creative engine yang menghasilkan. Kita perlu memikirkan bagaimana satu IP dapat berkembang menjadi berbagai peluang bisnis dan terus memberikan nilai bagi industri musik Indonesia," katanya.
Agenda KMI 2026 juga mengangkat isu Sirkuit Venue Indonesia melalui panel yang menghadirkan Rektor Institut Musik Jalanan (IMJ) Andi Malewa, Kepala Departemen Station Service MRT Jakarta Akbar Rayyan Subekti, serta pendiri sekaligus promotor Rock in Celebes, Ardy Siji.
Diskusi menyoroti pentingnya mengoptimalkan ruang publik dan membangun jaringan pertunjukan antarkota. Andi Malewa memaparkan pengalaman IMJ membangun tata kelola bagi musisi jalanan lewat kurasi, pembekalan, dan kerja sama dengan pengelola ruang publik.
"Ruang publik bisa dihidupkan dengan aman, tertib, dan saling menguntungkan. Yang penting, musisi juga mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan menunjukkan kualitas bermusiknya," kata Andi.
Akbar Rayyan Subekti menjelaskan kolaborasi MRT Jakarta dengan IMJ sebagai contoh pemanfaatan fasilitas transportasi publik sebagai ruang aktivitas kreatif. Lewat pendekatan kurasi, stasiun MRT tidak hanya jadi tempat transit, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya dan hiburan.
"Transportasi publik bukan hanya memindahkan manusia dari satu titik ke titik lain. Ada pengalaman dan emosi yang ikut dibawa, sehingga ruang publik dapat dihidupkan melalui aktivitas musik yang tepat," ujarnya.
Ardy Siji menekankan perlunya menyatukan inisiatif promotor, festival, musisi, pengelola venue, dan pemerintah dalam satu perencanaan bersama. Potensi pasar pertunjukan di berbagai daerah dinilai cukup besar, tetapi butuh kepastian akses venue dan dukungan berkelanjutan.
"Harapannya, kita bisa duduk bersama sejak tahap perencanaan, bukan hanya ketika sebuah acara akan berlangsung. Dengan begitu, penyelenggaraan konser dan festival musik dapat berkelanjutan, dan musisi maupun promotor memiliki kepastian untuk mengembangkan kegiatan mereka dari tahun ke tahun," ungkap Ardy.
Penguatan Sirkuit Venue Indonesia diharapkan memaksimalkan fasilitas publik sebagai ruang pertunjukan. Jaringan ini juga berpotensi membuka peluang tur musisi antardaerah secara lebih terencana, memperluas penonton, serta mendorong pemerataan industri musik di luar Jakarta.
Memasuki hari ketiga, KMI 2026 menghadirkan sejumlah diskusi panel dan sesi paralel soal masa depan industri musik. Isu yang dibahas meliputi dukungan mobilisasi musisi, dampak ekonomi industri musik, pengukuran dampak ekonomi festival, program MTN, pengembangan sumber daya manusia, serta perlindungan dan kesejahteraan pekerja musik.
Agenda tersebut dilengkapi sesi pengenalan dan presentasi singkat delegasi internasional. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo hadir dalam rangkaian KMI 2026, menandai keterlibatan pemerintah dalam pembahasan ekosistem musik nasional.
Bagi industri musik Indonesia, arah pembahasan KMI 2026 menempatkan event dan venue bukan lagi pelengkap konser. Keduanya diposisikan sebagai infrastruktur kreatif yang menentukan keberlanjutan karier musisi dan promotor di daerah.