PALEMBANG — Penyemaian garam dilakukan dari udara dengan penerbangan yang dimulai di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Pesawat kemudian bergerak menuju wilayah yang mengalami karhutla dan menyebarkan bahan semai memakai peralatan khusus.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Feri Yunaldi, menyebut operasi modifikasi cuaca sudah berjalan beberapa hari sebelum penyemaian 42 ton garam. Dampaknya, hujan mulai turun di Kota Palembang dan sejumlah daerah lain di Sumatera Selatan.
Hujan Turun di Tujuh Kabupaten/Kota
Satgas Udara Lanud Sri Mulyono Herlambang melaporkan hujan dengan intensitas ringan, sedang hingga lebat di beberapa wilayah. Daerah yang tercatat mengalami hujan antara lain Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Komering Ulu (OKU), Musi Rawas, Muara Enim, serta Kota Palembang.
Pelaksanaan operasi mempertimbangkan informasi kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Selain garam atau natrium klorida (NaCl), operasi sebelumnya juga memakai dry ice atau es kering sebagai bahan pendukung.
Kenapa Garam Disebar ke Langit
Garam menjadi bahan semai untuk memicu pembentukan awan hujan di kawasan terdampak kebakaran. Hujan yang dihasilkan diharapkan menjaga kelembapan lahan, terutama kawasan gambut, sekaligus mendukung pemadaman kebakaran di sejumlah daerah Sumsel.
Operasi melibatkan TNI AU, BNPB, BMKG, dan sejumlah instansi terkait. Dukungan pesawat angkut diperlukan untuk membawa bahan semai dan melaksanakan penerbangan menuju wilayah sasaran.
Dukungan Udara Akan Berlanjut
TNI AU memastikan dukungan udara untuk penanganan karhutla di Sumatera Selatan akan terus dilakukan. Penyemaian garam menjadi salah satu upaya meningkatkan potensi hujan di kawasan terdampak kebakaran.
Operasi modifikasi cuaca dinyatakan akan terus berjalan untuk membantu mempercepat penanganan titik-titik api yang masih terjadi di wilayah Sumsel.