Kimia Farma Pangkas Rugi 94 Persen, Sisa Rp13 Miliar per Kuartal III

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Senin, 02 November 2026 | 10:51:01 WIB
Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam menyampaikan kinerja perseroan pada kuartal III 2026.

SUMATERA SELATAN — PT Kimia Farma (Persero) Tbk menekan rugi bersih kuartal III 2026 menjadi Rp13 miliar, turun 94,49 persen dari Rp234 miliar pada periode sama tahun lalu. Perbaikan itu ditopang laba usaha yang melesat 129,31 persen dan EBITDA yang tumbuh 32,04 persen, buah dari transformasi bisnis yang dijalankan perseroan.

Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam menyebut penurunan rugi bersih sebagai perkembangan penting dalam perjalanan transformasi perseroan. Laba usaha tercatat Rp227 miliar, naik dari Rp99 miliar pada kuartal III 2025, sementara EBITDA menembus Rp503 miliar dari sebelumnya Rp381 miliar.

Penjualan Bertahan di Rp7 Triliun

Di tengah tekanan industri farmasi, Kimia Farma mempertahankan angka penjualan sebesar Rp7 triliun hingga kuartal III 2026. Posisi itu menjadi penopang utama perbaikan laba usaha dan EBITDA.

Rugi bersih yang menyusut Rp221 miliar mencerminkan kemajuan pelaksanaan transformasi bisnis dan keuangan. Fokusnya ada pada penguatan kinerja operasional, peningkatan efisiensi, dan optimalisasi pengelolaan sumber daya.

"Kinerja Perseroan sampai dengan Triwulan III 2026 menunjukkan bahwa proses menuju turnaround terus berjalan dengan arah yang positif," ujar Djagad dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Enam Pilar Transformasi Jadi Kunci

Perbaikan fundamental dijalankan lewat enam pilar utama. Pertama, ketahanan modal kerja. Kedua, penguatan kompetensi sumber daya manusia. Ketiga, digitalisasi proses bisnis.

Pilar berikutnya adalah efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance, serta sinergi antar entitas Kimia Farma Grup. Keenam pilar itu menjadi kerangka kerja yang menopang pemulihan kinerja secara berkelanjutan.

Pada aspek keuangan, perseroan memperkuat pengelolaan modal kerja dan likuiditas agar kegiatan operasional berjalan lebih efektif. Dari sisi operasional, efisiensi dilakukan melalui pengendalian biaya, optimalisasi pemanfaatan aset, dan penguatan portofolio produk sesuai kebutuhan pasar.

Digitalisasi proses bisnis, peningkatan kompetensi SDM, dan penguatan tata kelola diarahkan membangun organisasi yang lebih adaptif, produktif, dan akuntabel. Sinergi antarentitas grup juga didorong untuk memperkuat koordinasi dan menciptakan nilai tambah bagi perseroan secara keseluruhan.

Prioritas Kuartal IV dan Peran di Ekosistem Danantara

Memasuki kuartal IV 2026, Kimia Farma menempatkan transformasi tata kelola dan penguatan fundamental bisnis sebagai prioritas utama. Pembenahan diarahkan pada penguatan pengendalian internal, pengelolaan risiko, disiplin pengambilan keputusan, serta akuntabilitas.

Pada aspek bisnis dan keuangan, perseroan melanjutkan penguatan modal kerja dan likuiditas, pengendalian biaya, peningkatan produktivitas aset, serta optimalisasi portofolio produk. Langkah itu ditempuh agar perbaikan kinerja tidak berhenti di level jangka pendek.

Sebagai bagian dari Bio Farma Group dalam ekosistem Danantara Indonesia, Kimia Farma memegang peran strategis sebagai tulang punggung ketahanan kesehatan nasional. Perseroan memperkuat sinergi bisnis dan rantai pasok untuk mendukung efisiensi serta ketersediaan produk dan layanan kesehatan.

"Transformasi tersebut diarahkan untuk membangun bisnis yang lebih tangguh dan memperkuat kontribusi Perseroan bagi kemandirian industri farmasi Indonesia dan mendukung ketahanan kesehatan nasional," kata Djagad.

Bagi investor, capaian kuartal III 2026 menjadi sinyal bahwa tekanan kinerja Kimia Farma mulai mereda. Laba usaha yang berbalik tumbuh dua digit dan rugi bersih yang tinggal Rp13 miliar menempatkan perseroan pada jalur pemulihan yang lebih terukur dibanding tahun sebelumnya.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: kaltara.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top