PALEMBANG — Tahun 2026 menjadi titik temu dua momentum besar bagi Indonesia: peringatan lahirnya Pancasila dan Hari Raya Idul Adha. Dra. Anisatul Mardiah M.Ag, Ph.D, dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang, menilai kedua peristiwa ini memiliki benang merah nilai luhur yang saling memperkuat.
Kurban Bukan Sekadar Potong Hewan
Dalam tulisannya, Anisatul menekankan bahwa hakikat kurban tidak terletak pada darah atau daging hewan yang disembelih. Esensi utamanya adalah ketakwaan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Ia menjelaskan empat dimensi utama ibadah kurban: bentuk ketaatan kepada Allah, wujud keikhlasan dan pengorbanan harta, sarana kepedulian sosial, serta upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. "Melalui ibadah kurban, umat Islam diajarkan untuk rela berkorban demi kepentingan agama dan sesama manusia," tulisnya.
Lima Sila Tercermin dalam Setiap Proses Kurban
Anisatul merinci bagaimana setiap sila dalam Pancasila tercermin dalam pelaksanaan kurban. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, terlihat dari niat beribadah dan ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, diwujudkan melalui pembagian daging kurban kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan tanpa diskriminasi.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, tercermin dari semangat kebersamaan saat proses penyembelihan dan distribusi yang melibatkan lintas warga. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, tampak dalam musyawarah panitia kurban menentukan penerima manfaat. Adapun sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, diwujudkan melalui pemerataan daging kurban hingga ke masyarakat paling bawah.
Penguatan Karakter Bangsa di Tengah Kemajemukan
Menurut Anisatul, kedua momentum yang berdekatan ini bisa menjadi sarana memperkuat karakter bangsa dan mempererat persaudaraan. "Pancasila sebagai dasar negara mengandung pedoman moral dan sosial, sedangkan Idul Adha mengajarkan ketakwaan, keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial," ungkapnya.
Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya. Hal ini menunjukkan inti ibadah kurban adalah kebersihan hati dan keikhlasan—nilai yang sejajar dengan semangat gotong royong dan keadilan sosial dalam Pancasila.