Pencarian

Tim PKM Universitas IBA Palembang Ciptakan Pupuk Kompos-Char untuk Lahan Rawa Lebak di Banyuasin, Petani Bisa Produksi Mandiri

Jumat, 17 Juli 2026 • 11:47:43 WIB
Tim PKM Universitas IBA Palembang Ciptakan Pupuk Kompos-Char untuk Lahan Rawa Lebak di Banyuasin, Petani Bisa Produksi Mandiri
Tim PKM Universitas IBA Palembang memperkenalkan pupuk kompos-char untuk mengatasi tanah masam di lahan rawa lebak Banyuasin.

BANYUASIN — Lahan rawa lebak di Sumatera Selatan selama ini punya masalah klasik: tanahnya terlalu masam. Akibatnya, pupuk fosfor (P) yang mahal dan sering dipakai petani justru terikat oleh besi dan aluminium di dalam tanah, alias tidak bisa dimanfaatkan tanaman secara optimal. Tim PKM Universitas IBA Palembang pun menawarkan solusi lewat pupuk kompos-char.

"Karakteristik tanah masam pada lahan rawa lebak membuat pupuk fosfor yang diberikan petani mudah terikat oleh kandungan besi dan aluminium sehingga sulit diserap oleh tanaman," jelas Ketua Tim PKM Universitas IBA, Dr. Ir. Nurul Husna, di Palembang, Kamis.

Formula Kompos-Char: Sekam Padi, Kotoran Itik, dan Bakteri Khusus

Nurul menjelaskan, kompos-char bukan sekadar campuran pupuk biasa. Formulanya dirancang ilmiah dengan memadukan biochar sekam padi, kompos kotoran itik, dan bakteri pelarut fosfat. Bakteri ini yang bekerja aktif melepas ikatan zat besi serta aluminium, sehingga fosfor bisa diserap maksimal oleh akar tanaman.

"Kompos-Char kami kembangkan sebagai teknologi yang memanfaatkan potensi lokal untuk membantu meningkatkan efisiensi pemanfaatan fosfor sekaligus memperbaiki kesuburan tanah," ujar Nurul.

Demplot Padi dan Cabai, Limbah Jadi Bernilai Ekonomi

Inovasi ini sudah diuji coba di lahan percontohan (demplot) tanaman padi dan hortikultura cabai milik Kelompok Tani Cahaya Tani di Desa Sungai Pinang. Khusus untuk cabai, pupuk diaplikasikan di area galengan sawah yang tadinya keras dan marjinal, kini mulai gembur.

Ketua Kelompok Tani Cahaya Tani, Suratman, mengaku bersyukur. Bahan baku pembuatan kompos-char, kata dia, melimpah dan mudah didapat di sekitar desa. "Kami tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mempraktikkan langsung proses pembuatan kompos-char hingga penerapannya di demplot. Ke depan kami berharap teknologi ini dapat terus diterapkan oleh anggota kelompok tani," katanya.

Pelatihan Manajemen Niaga agar Petani Bisa Produksi Mandiri

Universitas IBA tidak berhenti pada riset. Setelah uji coba berhasil, mereka akan memberikan pelatihan manajemen niaga kepada kelompok tani. Tujuannya agar petani mampu memproduksi dan mendistribusikan pupuk inovatif ini secara mandiri, tanpa terus bergantung pada pupuk kimia fosfat yang efektivitasnya rendah di lahan rawa lebak.

Kepala Desa Sungai Pinang, Sustrieyanti, menambahkan bahwa inovasi ini membuka peluang baru. Limbah pertanian dan peternakan yang selama ini tidak punya nilai ekonomi, kini bisa diolah jadi pupuk bernilai. "Kami menyambut baik program ini karena memanfaatkan potensi yang ada di desa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi petani. Harapannya, teknologi ini dapat terus dikembangkan sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: sumsel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks