BATANG HARI — Kepala Departemen Riset dan Konservasi PT REKI Hutan Harapan, Rohmat Eko Santoso, menyatakan pihaknya belum bisa memastikan detail harimau yang terekam. "Belum dianalisis lebih lanjut, ini baru ketemu dan proses identifikasi," katanya dalam keterangan yang diterima di Jambi, Sabtu.
Periode pemasangan kamera jebak berlangsung dari Februari hingga Juni 2026. Sebanyak 90 unit kamera dipasang secara tersusun pada titik koordinat tertentu menggunakan metode sistem papan catur. Tujuannya agar mencakup plot pengamatan secara sistematis.
Selain harimau sumatra, tim menemukan setidaknya 39 spesies lain di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya adalah rusa, kijang, kancil, napu, babi berjanggut, tapir, dan beruang.
Hutan Harapan merupakan area konsesi restorasi ekosistem pertama di Indonesia yang dikelola PT REKI. Kawasan ini menjadi habitat kritis bagi satwa liar di Pulau Sumatra yang terus terdesak alih fungsi lahan.
Pihak pengelola memastikan akan melakukan analisis lebih lanjut terhadap data kamera jebak. "Ini masih berprogres di lapangan untuk pemasangan dan analisis. Harapannya bisa nanti keluar rilis dokumen terkait jumlah harimau itu," tutup Eko.
Keberadaan harimau sumatra di alam liar menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan. Spesies ini masuk dalam kategori kritis (critically endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Setiap rekaman kamera jebak membantu peneliti memperkirakan populasi dan sebaran satwa dilindungi tersebut di habitat aslinya.
Data yang terkumpul juga menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan pengelola konsesi dalam menyusun strategi konservasi jangka panjang di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan.