SUMATERA SELATAN — Kecelakaan terjadi pada pukul 20.00 waktu setempat di kawasan Tampa, Florida. Mobil listrik crossover itu melaju di jalan dengan batas kecepatan 30 mph (sekitar 48 km/jam), lalu tiba-tiba keluar dari aspal, menghantam kotak instalasi listrik, dan terperosok ke dalam kolam. Foto-foto dari lokasi kejadian menunjukkan Model Y ringsek parah di bagian depan hingga hampir tak berbentuk.
Dua orang berada dalam mobil saat kejadian: pengemudi berusia 87 tahun dan seorang perempuan berusia 75 tahun sebagai penumpang. Keduanya dilarikan ke rumah sakit setempat oleh tim penyelamat. Pengemudi kemudian meninggal dunia, sementara penumpang selamat dengan luka yang tidak mengancam jiwa. Identitas kedua korban belum diumumkan.
Autopilot atau FSD? Nama Sistem Tesla yang Membingungkan
Florida Highway Patrol (FHP) menyatakan bahwa Model Y tersebut mengoperasikan sistem Autopilot Level 2—sistem bantuan pengemudi yang tetap membutuhkan tangan di setir. Namun, investigasi masih berlangsung untuk mencari tahu penyebab mobil meninggalkan jalur. Polisi belum menutup kemungkinan faktor kecepatan, kondisi medis pengemudi, atau keanehan pada sistem ADAS (Advanced Driver Assistance System) Tesla.
Masalahnya, pelabelan sistem ini rumit. Tesla telah menghapus nama "Autopilot" dari situs web AS mereka untuk mobil bekas yang dijual, menggantinya dengan "Traffic-Aware Cruise Control and Autosteer". Artinya, bisa saja mobil yang terlibat kecelakaan ini belum diperbarui namanya. Atau, bisa juga mobil tersebut sedang menjalankan software Full Self-Driving (FSD) yang lebih canggih, namun petugas dan jurnalis di lapangan tidak bisa membedakan karena labirin nomenklatur Tesla yang membingungkan. Waktu yang akan menjawab.
Bukan Kasus Pertama: Riwayat Kecelakaan Sistem ADAS Tesla
Insiden ini bukanlah kasus terisolasi. Banyak laporan sebelumnya mencatat Tesla dengan FSD atau Autopilot aktif terlibat kecelakaan. Perusahaan milik Elon Musk itu bahkan telah menyelesaikan sejumlah tuntutan hukum terkait hal ini. Badan keselamatan lalu lintas AS (NHTSA) saat ini juga sedang menyelidiki bagaimana sistem Tesla bereaksi dalam kondisi visibilitas rendah.
Belum lama ini, sebuah Cybertruck dilaporkan nyaris melompat dari jembatan layang. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi otonom terus berkembang, risiko fatal masih mengintai, terutama ketika batas antara "bantuan" dan "otomatis penuh" semakin kabur di mata pengemudi.