SUMATERA SELATAN — Sejak peluit pertama dibunyikan, skema permainan yang diinstruksikan John Herdman langsung terlihat. Tanpa diperkuat pemain-pemain bintang yang berkarier di Eropa, Timnas Indonesia justru tampil dominan dan agresif sejak awal. Pendekatan pragmatis yang kerap melekat di era sebelumnya seolah hilang digantikan permainan menyerang yang terstruktur.
Gol Bola Mati dan Skema Serangan dari Belakang
Gol pertama lahir dari skema bola mati yang terlatih. Tendangan bebas Thom Haye disundul Mitchell Baker pada menit ke-12. Ini bukan kebetulan—Herdman memang dikenal getol melatih variasi set piece.
Gol kedua menjadi bukti kematangan permainan. Dimulai dari Nadeo Argawinata, bola mengalir melalui 11 kali umpan dalam tempo 33 detik. Umpan tarik Eliano Reijnders diselesaikan dengan dingin oleh Mitchell Baker untuk gol keduanya malam itu. Tiga gol tambahan di babak kedua juga lahir dari pola serangan yang sama: umpan-umpan pendek, pergerakan tanpa bola, dan penyelesaian akhir yang tenang.
Mengapa Stadion Pakansari Hanya Diisi 22.485 Penonton?
Meski menang besar, atmosfer Stadion Pakansari tidak sepenuhnya penuh. Dari kapasitas 30.000 kursi, hanya 22.485 tiket terjual. Jumlah ini lebih rendah dari dua laga uji coba sebelumnya. Namun, angka tersebut tetap menunjukkan antusiasme publik yang mulai pulih setelah kekecewaan gagal ke Piala Dunia 2026.
Stadion Gelora Bung Karno yang berkapasitas jauh lebih besar bahkan hanya terisi setengahnya saat laga uji coba sebelumnya. Artinya, kepercayaan publik terhadap tim sedang dalam masa transisi.
Reinkarnasi Gaya Main atau Sekadar Lawan Lemah?
John Herdman datang dengan reputasi sebagai pelatih yang mampu membangun tim dari nol. Ia membawa pendekatan baru: tidak ada lagi parkir bus atau sepak bola pragmatis. Timnas Indonesia kini bermain berani, membangun serangan dari belakang, dan menekan tinggi.
Namun, menang 5-1 atas Kamboja bukanlah hal baru. Di era-era sebelumnya, Timnas Indonesia juga kerap mencukur lawan serupa. Ujian sesungguhnya belum datang. Pertandingan melawan tim-tim seperti Thailand atau Vietnam akan menjadi batu ujian apakah gaya baru ini benar-benar efektif atau hanya manis melawan lawan lemah.
Yang jelas, denyut reinkarnasi telah terasa. Gairah yang sempat redup mulai menyala kembali. Kini publik menanti konsistensi Garuda di laga-laga berikutnya.