SUMATERA SELATAN — Spider-Man: Brand New Day tayang di bioskop Inggris dan akan hadir di Amerika Serikat serta wilayah lain mulai Jumat, 31 Juli. Film ini menjadi babak baru bagi Peter Parker (Tom Holland) setelah peristiwa No Way Home yang menghapus ingatan semua orang tentang identitasnya. Disutradarai Destin Daniel Cretton, film ini menjanjikan pendekatan street-level yang lebih membumi, tapi apakah benar-benar berhasil menjadi awal baru yang murni?
Aksi Laga Terbaik Spider-Man Sepanjang Masa
Satu hal yang tidak bisa dibantah: Brand New Day menyajikan aksi laga paling spektakuler yang pernah dilakukan Spider-Man di layar lebar. Pertarungan melawan Hulk dan The Hand mendapat pujian khusus karena intensitas dan imajinasinya yang segar. Sudut pandang orang pertama saat Spider-Man berayun di New York juga memberikan sensasi baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Stunt koordinator Peng Zhang dan timnya layak mendapat kredit penuh. Holland sendiri tampil paling akrobatik dan cerdik dalam setiap adegan pertarungan. Bagi penonton yang datang untuk tontonan aksi, film ini benar-benar worth the entry fee.
Masalah Emosional: Kesepian yang Tak Tergali
Meski digembar-gemborkan sebagai kisah tentang isolasi dan beban mental Peter Parker, Brand New Day justru gagal mengeksplorasi tema ini secara mendalam. Sepanjang 142 menit, Parker memang menjalani hidup sebagai pertapa sosial, tapi ia tetap banyak berdialog dan bercanda dengan karakter lain. Tidak ada momen hening yang benar-benar menggambarkan kesepian yang ia rasakan.
Film ini juga kalah dalam urusan dampak emosional dibandingkan No Way Home atau bahkan Far From Home. Padahal, Sadie Sink sebagai karakter misteri baru memberikan penampilan yang menyentuh di babak ketiga. Namun secara keseluruhan, tema mental health di sini tidak digarap sesensitif Thunderbolts*.
Chemistry Tom Holland dan Jon Bernthal: Satu-satunya Kejutan
Kejutan terbesar justru datang dari dinamika Spider-Man dengan Frank Castle alias The Punisher (Jon Bernthal). Meskipun karakter Bernthal yang kasar dan brutal biasanya tidak cocok untuk film keluarga MCU, chemistry alami antara keduanya menghasilkan adegan paling lucu dan paling berkesan di film ini. Hubungan mereka seperti kakak-adik yang saling bertengkar, dan setiap kali mereka bersama, layar terasa hidup.
Selain itu, New York di film ini terasa lebih ramai dengan superhero lain. Mark Ruffalo kembali sebagai Bruce Banner, ditambah pendatang baru seperti Tramell Tillman dan Liza Colón-Zayas. Sayangnya, terlalu banyak karakter membuat beberapa dari mereka kurang mendapat pengembangan yang layak.
Sadie Sink dan Masalah MCU yang Tak Kunjung Usai
Sink memainkan karakter yang baru terungkap di menit ke-70. Setelahnya, ia langsung menjadi pusat cerita—dan di sinilah masalah muncul. Alih-alih fokus pada Peter Parker, film ini lebih sibuk membangun plot untuk sekuel mendatang. Di babak ketiga, Spider-Man nyaris menjadi penumpang di filmnya sendiri.
Bukan berarti penampilan Sink buruk. Justru sebaliknya, ia memberikan gravitas emosional yang kuat. Tapi ini bukan pertama kalinya film Spider-Man solo membuat pahlawan utamanya tersaingi oleh karakter lain dalam ceritanya sendiri.
Kesimpulan: Layak Tonton, Tapi Bukan Awal Baru
Brand New Day adalah film Spider-Man yang paling dewasa dan paling membumi secara emosional dibanding pendahulunya. Aksi laga, chemistry antara Holland dan Bernthal, serta penampilan Sink menjadi nilai jual utama. Namun, keterikatan berlebihan pada karakter lama seperti MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon), plus beban membangun MCU, membuat film ini enggan benar-benar melangkah maju.
Judulnya mungkin "Brand New Day", tapi film ini masih bergulat dengan masa lalunya sendiri. Untuk penggemar setia yang mencari hiburan dua setengah jam, tiketnya layak dibeli. Tapi bagi yang berharap Spider-Man akhirnya benar-benar memulai lembaran baru, mungkin harus menunggu film kelima.