PALEMBANG — Dalam percakapan telepon dengan Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, Herman Deru melaporkan perkembangan awal penerapan teknologi dry ice di Sumsel. Ia juga menanyakan apakah pendanaan proyek percontohan tersebut benar-benar dialihkan ke Kementerian Kehutanan.
Laporan sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut jarak pandang di sekitar wilayah penyemaian dry ice naik dari kisaran 650 meter menjadi 2.800 meter. Angka itu menjadi indikator awal yang menurut Pemprov Sumsel perlu ditindaklanjuti dengan evaluasi teknis.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan menyampaikan data tersebut berasal dari pemantauan sementara operasi modifikasi cuaca. Peningkatan visibility terpantau di sekitar lokasi penyemaian dry ice.
"Laporan sementara menunjukkan peningkatan visibility di sekitar wilayah penyemaian, yang semula terpantau di kisaran 650 meter menjadi 2.800 meter," kata Berton dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Meski begitu, data itu belum dengan sendirinya membuktikan perubahan kondisi udara sepenuhnya disebabkan penerapan teknologi dry ice. Pemantauan dan evaluasi teknis masih diperlukan untuk memastikan kontribusinya.
Pemprov Sumsel meluncurkan penerapan teknologi dry ice sebagai upaya mengurai kabut asap, terutama di Kota Palembang dan sekitarnya. Tahap awal operasi direncanakan memakai sekitar 1,5 ton karbon dioksida padat.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Presiden RI Prabowo Subianto untuk mempercepat penanganan kabut asap akibat karhutla di Sumatera Selatan. Persiapan operasi sebelumnya ditinjau Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman bersama Herman Deru di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Rabu (14/10/2026).
Saat itu Herman Deru menyampaikan berbagai persiapan terus dimatangkan, termasuk penyiapan pesawat. Sebagian bahan dry ice telah tiba di Palembang, sedangkan sisanya masih dalam perjalanan dari Lampung.
Herman Deru menegaskan proyek percontohan teknologi dry ice perlu dilanjutkan agar dampaknya terhadap penanganan kabut asap dapat diketahui lebih menyeluruh. Ia menyebut kondisi langit pagi itu mulai terlihat lebih cerah setelah operasi.
"Jadi, ini pilot project, jangan berhenti, Pak, karena ini sudah terlihat hilal kebaikannya, Pak," katanya.
Kepada awak media, Herman Deru kembali menyampaikan harapan agar teknologi tersebut membantu memperbaiki kondisi udara dan mengurangi kabut asap yang menyelimuti Sumsel. Ia mengakui belum bisa memastikan apakah masyarakat merasakan perubahan itu.
"Saya tidak tahu masyarakat merasakan atau tidak, tapi ini kondisi yang sedikit membaik. Kalau ini (dry ice) diteruskan, mudah-mudahan ada dampaknya," ujarnya.
Untuk memastikan dampak operasi, Herman Deru akan meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel memperbarui data kualitas udara. Pembaruan dilakukan setelah operasi dry ice yang dilaksanakan sehari sebelumnya.
Pemantauan kualitas udara dan evaluasi hasil operasi dinilai penting untuk menentukan langkah penanganan berikutnya. Kabut asap akibat karhutla masih menjadi perhatian masyarakat Sumsel.
Herman Deru menginginkan penerapan teknologi dry ice dilanjutkan dengan evaluasi teknis. Tujuannya agar efektivitas, manfaat, dan kontribusinya dalam penanganan kabut asap dapat diketahui secara terukur.