SUMATERA SELATAN — Sesekali marah pada si kecil memang wajar, tapi sering dimarahi bisa berdampak pada kondisi mentalnya. Kenali ciri kepribadian anak yang kerap jadi sasaran kemarahan orang tua dan cara menyikapinya dengan lebih tenang di rumah.
Marah pada anak sesekali adalah hal yang wajar dialami hampir semua orang tua. Namun, kemarahan yang datang terlalu sering bisa meninggalkan bekas pada kondisi mental si kecil.
Penting bagi ibu dan ayah untuk mengenali ciri kepribadian anak yang kerap memicu kemarahan, supaya respons yang diberikan bisa lebih bijak. Bukan berarti anak salah, tapi cara orang tua merespons yang perlu disesuaikan.
Anak dengan energi tinggi sering dianggap nakal karena tidak bisa duduk tenang. Padahal, aktivitas fisik yang tinggi adalah bagian dari perkembangan motoriknya.
Alih-alih membentak, ibu bisa mengarahkan energinya ke kegiatan yang aman, seperti bermain di luar atau aktivitas sensorik.
Anak yang gemar bertanya "kenapa" atau menolak perintah sering membuat orang tua kesal. Sikap ini sebenarnya tanda rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis yang sedang tumbuh.
Menjawab pertanyaannya dengan sabar, atau memberi pilihan sederhana, bisa mengurangi gesekan tanpa mematikan rasa ingin tahunya.
Anak yang mudah tersinggung atau menangis sering dianggap cengeng. Padahal, sensitivitas tinggi berarti anak menyerap emosi di sekitarnya dengan kuat.
Peluk dan validasi perasaannya dulu sebelum memberi penjelasan. Anak yang merasa dipahami lebih mudah diajak bekerja sama.
Anak yang ngotot dengan keinginannya sering memicu pertengkaran kecil sehari-hari. Sifat ini sebenarnya modal penting untuk ketangguhan dan kemandiriannya kelak.
Beri batasan yang jelas, lalu libatkan anak dalam memilih agar ia merasa dihargai tanpa harus menyerah pada semua permintaannya.
Anak yang lambat bergerak atau sering menunda tugas membuat orang tua mudah kehilangan kesabaran, apalagi saat waktu terbatas.
Bantu dengan rutinitas yang konsisten dan instruksi singkat, bukan dengan bentakan yang membuatnya makin cemas.
Jika kemarahan orang tua sudah sering terjadi dan anak menunjukkan perubahan perilaku seperti menarik diri, mudah takut, atau sulit tidur, sebaiknya konsultasikan ke psikolog anak.
Langkah ini bukan tanda orang tua gagal, melainkan upaya mencari pola asuh yang lebih sehat untuk seluruh keluarga.
Saat emosi memuncak, ambil jeda beberapa detik sebelum merespons. Menarik napas panjang dan menurunkan nada suara bisa mencegah kata-kata yang menyakitkan.
Ingat, yang dibutuhkan anak bukan orang tua yang sempurna, tapi orang tua yang mau belajar mengelola emosinya sendiri.