Pencarian

Pendapatan United Tractors Turun 10% Jadi Rp90,3 T, PAMA Jadi Penopang

Selasa, 27 Oktober 2026 • 08:20:01 WIB
Pendapatan United Tractors Turun 10% Jadi Rp90,3 T, PAMA Jadi Penopang
Pendapatan United Tractors turun 10% menjadi Rp90,3 triliun hingga kuartal III-2026.

SUMATERA SELATAN — PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pendapatan bersih Rp90,3 triliun hingga kuartal III-2026, turun 10% secara tahunan dari Rp100,5 triliun pada periode sama 2025. Pelemahan dipicu penurunan kinerja segmen alat berat dan tambang batu bara imbas alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah. Segmen kontraktor penambangan lewat PAMA dan KPP Mining menahan penurunan lebih dalam dengan pendapatan yang justru naik 11%.

Tekanan pada bisnis alat berat dan batu bara membuat pendapatan PT United Tractors Tbk (UNTR) menyusut sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Laba bersih perseroan tanpa memperhitungkan pos non-recurring anjlok 31% menjadi Rp7,9 triliun, seiring melemahnya permintaan di sektor pertambangan.

Perseroan juga membukukan pos non-recurring senilai Rp3,5 triliun. Nilai itu terdiri dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Batu Bara dan Alat Berat Tertekan Paling Dalam

Penurunan paling tajam terjadi di lini pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources). Volume penjualan batu bara turun 23% menjadi 7,1 juta ton, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi, dengan pendapatan susut 15% menjadi Rp15,9 triliun.

Corporate Secretary UT Ari Setyawan menyatakan dampak RKAB merembet ke segmen alat berat. "Dampak RKAB juga merembet ke segmen alat berat," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (26/10).

Penjualan Komatsu turun 17% menjadi 3.026 unit. Penyebab utamanya, penjualan big machine di sektor tambang anjlok 48% menjadi hanya 481 unit. Total pendapatan segmen alat berat turun 19% menjadi Rp23,6 triliun.

Di tengah pelemahan itu, pendapatan purna jual suku cadang dan jasa pemeliharaan masih tumbuh 2% menjadi Rp8,5 triliun. Lini ini menjadi bantalan karena sifatnya berulang dan tidak bergantung pada pembelian unit baru.

PAMA dan KPP Mining Menahan Laju Penurunan

Segmen kontraktor penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) menjadi penopang kinerja. Pendapatan segmen ini naik 11% menjadi Rp44,5 triliun, meski volume pemindahan tanah turun 7% menjadi 766 juta bcm dan produksi batu bara klien turun 3% menjadi 106 juta ton dengan stripping ratio 7,2x.

Kenaikan tersebut ditopang penguatan kurs dolar Amerika Serikat. PAMA dan KPP Mining juga tengah memperluas ekspansi ke sektor emas dan nikel sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.

Emas Anjlok, Martabe Baru Beroperasi Kembali

Segmen emas dan mineral lainnya mencatat pendapatan Rp4,9 triliun, anjlok 53% akibat penjualan emas yang turun 70%. Total penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya hanya 54 ribu ons, jauh di bawah 178 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu.

Penyebabnya, penghentian sementara operasional Tambang Emas Martabe yang baru kembali beroperasi pada kuartal II-2026. Untuk nikel, PT Stargate Pacific Resources membukukan penjualan bijih 1.157 ribu wet metric ton (wmt), terdiri dari 390 ribu wmt saprolit dan 767 ribu wmt limonit.

Posisi Utang dan Buyback Saham

Per 30 September 2026, perseroan mencatat utang bersih Rp4,6 triliun dengan rasio gearing 4,2%. Posisi itu berbalik dari kas bersih Rp7,7 triliun per Desember 2025, mencerminkan aksi akuisisi perusahaan tambang emas dan program pembelian kembali saham.

UT telah menyelesaikan buyback tahap keempat pada 30 September 2026 dengan 58 juta lembar saham. Perseroan melanjutkan tahap kelima senilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Secara akumulatif sejak Juli 2022, perseroan telah membeli kembali 297 juta saham senilai Rp8,5 triliun. Langkah itu dibaca manajemen sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang di tengah volatilitas pasar.

Bagi investor, kinerja sembilan bulan UNTR menunjukkan ketergantungan pendapatan pada siklus batu bara masih besar. Ekspansi PAMA ke emas dan nikel, ditambah buyback yang berjalan, menjadi penentu apakah penurunan pendapatan berhenti di kuartal IV-2026 atau berlanjut ke tahun berikutnya.

Follow www.palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks